Oleh: elheru | April 13, 2010

CURUG NANGKA DAN PURA PARAHYANGAN AGUNG JAGATKARTTYA

Merasa bosan dengan tempat wisata di kawasan puncak, kami sepakat pergi kekawasan Bogor lain yang belum kami kunjungi. Dengan bermodalkan nekad dan hanya berpegangan pada informasi dari internet dan info seorang teman, kami berangkat dari Jakarta menuju Curug Nangka pada tgl 14 maret 2010.

Perjalanan masih terasa ringan sampai kami tiba di daerah dramaga IPB. Sebetulnya kami tidak tahu arah mana yang harus kami tempuh. namun setelah perumahan Pakuan regency kami belok kiri menuju kawasan gunung. kami tidak bawa peta dan hanya berbekal ingatan atas arah yang ditumjukan google earth.

Anak saya, Ganang, berkata ” pokoknya ke selatan terus, pa. nanti juga sampai..” melewati jalanan kampung yang kecil dan berkelok kelok, kami tiba di desa Petir. daripada kesasar, saya turun dari mobil dan bertanya kepada seorang penduduk tentang lokasi curug nangka.  anak saya tertawa terpingkal pingkal ketika Orang tersebut memberi tahu arahnya. Orang tersebut berkata,” bapak jalan terus aja… nanti ketemu pertigaan yang kekanan dan kekiri, nah bapak ambil jalan yang kekiri… terus aja nanti ketemu pertigaan lagi yang kekanan dan kekiri nah bapak ambil yang kekanan….. dan terus naik bapak akan ketemu pertigaan lagi yang kekanan dan ke kiri nah bapak ambil yang kekiri..” Orang ini selalu mengatakan ” yang kekanan dan yang ke kiri”  di setiap pertigaan. anak saya bilang “memang ada arah lain selain kekanan dan kekiri?” he he he.

dengan petunjuk kanan dan kiri tadi akhirnya kami tiba di curug nangka. dikatakan oleh penjaga tiket bahwa ada 3 curug yang bisa dikunjungi dengan jarak 100 m, 300 m dan 900 m dari awal pendakian. hmm.. cukup menantang. namun nyonya saya mengeluh kakinya sakit sehingga kami hanya sampai di curug yang kedua.

curug nangka

kawanan kera liar

2 curug yang kami lihat tidak terlalu tinggi namun cukup bagus untuk dilihat. ditambah lagi banyak kawanan kera liar yang kami temui disana. curug ini masih bagus karena belum banyak sentuhan tangan. hal yang perlu ditingkatkan adalah fasilitas parkir yang kurang memadai untuk kendaraan roda 4.

Puas bermain air, kami berangkat menuju pura parahyangan Agung, yang menurut teman saya yang beragama hindu, hampir mirip dengan pura besakih, cuma ukurannya lebih kecil. Setelah melihat petunjuk arah kami tiba dipertigaan jalan menuju pura tersebut yang berjarak hanya 2 km dari jalan raya.

alamak….. ternyata jalannya hancur dan menanjak…kami harus berhati hati sekali mengendalikan mobil. kami berdoa semoga bannya tidak sobek oleh batu batu tajam. kami terus berjalan dengan kecepatan hanya 5 km perjam. dan akhirnya kami tiba di tempat itu.

ada tulisan bahwa selain yang ingin berdoa tidak diperkenankan memasuki kawasan pura. Aduh bagaimana ini… akhirnya saya bertemu dengan penjaga pura tersebut dan minta ijin untuk melihat lihat sekitar pura. kami diijinkan melihat lihat bagian depan pura saja. menurut penjaga pura telah dibersihkan untuk persiapan Nyepi.

dengan dibekali semacam selendang yang kami lilitkan di pinggang, akhirnya kami boleh berada di depan pura tersebut. Suatu pemandangan yang benar benar eksotis, sebuah Pura dengan latar belakang gunung salak yang indah…

Setelah puas melihat lihat dan berfoto akhirnya kami pulang dengan mengucapkan terimakasih kepada penjaga disana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: