Awal agustus 2008 lalu, saya mengunjungi pameran Flona yang tiap tahun diselenggarakan di lapangan Banteng, Jakarta. Kepergian saya kesana bersama my daughter untuk sekedar sightseeing sekaligus photo hunting.
Di sebuah sudut mata saya tertuju pada sebuah anturium yang dijual disana. walaupun masa keemasannya sudah berlalu, ternyata tanaman ini masih punya harga yang fantastis untuk ukuran kantong saya dan juga mungkin kantong kebanyakan orang Indonesia. Disitu tertera harga 375 juta ( masih bisa nego …. kata yang punya).
Iseng iseng saya mendekati, mengambil foto. Kemudian saya didekati penjual dan beliau menjelaskan panjang lebar tentang tanaman ini. Saya mengangguk angguk saja karena pada dasarnya saya tidak mengerti banyak tentang tanaman ini.
Ketika penjual akhirnya bertanya apakah saya berminat membelinya, saya tersenyum kecut. saya bilang ” saya harus jual rumah dulu baru saya bisa beli tanaman ini. Trus kalau saya sudah jual lalu dimana tanaman ini saya taruh?….he he he. lha rumahnya saja sudah terjual.
Seorang Bule lewat disamping saya dia bilang :” It’s very dear…”( mahal banget) saya bilang ” not very dear, Sir but Oh….. dear…”